Kemarahan presiden SBY yang marah terhadap Australia logikanya bakal menaikkan pamor Partai Demokrat. Namun apa yang terjadi ? pamor partai Demokrat semakin turun. Bahkan diprediksi elektabilitas suara partai Demokrat bakal di bawah 10 persen.

Partai Demokrat sudah kehilangan kesempatan untuk bangkit lagi kecuali ada gebrakan yang luar biasa. Namun bukannya gebrakan yang ada malah banyak sekali blunder-blunder yang terus dilakukan oleh Partai Demokrat.

Sikap tegas Susilo Bambang Yudhoyono terhadap bocornya dokumen penyadapan pemerintah Australia diharapkan mampu menaikkan pamor partai Demokrat. Namun nyatanya tak banyak pengaruh. Walaupun secara logika , seharusnya publik merespon baik sikap SBY tersebut. Namun ternyata publik mengharapkan SBY bertindak lebih baik lagi dari sekedar yang diambil sekarang. Misalnya meninjau kembali perdagangan antar kedua negara, atau justru memperkuat produk domestik agar tidak tergantung lagi dengan Australia. Seharusnya ini menjadi momen untuk membangkitkan produk lokal dalam negeri sehingga menjadi bangsa yang mandiri.

Barangkali karena ketergantungan Indonesia dari produk Australia terlalu banyak, maka pemerintah Australia menganggap gertakan SBY hanyalah gertakan sambal belaka. Dan mungkin saja malah menjadi bahan tertawaan bagi pemerintah Australia. Nyatanya banyak hal kita tergantung dengan australia. Kalau memang hubungan diputuskan, pastilah yang kelabakan Indonesia sendiri.

Lantas kenapa pamor demokrat tetap turun?

Jawabnya adalah karena partai Demokrat sedang redup bintangnya. Kalu diibaratkan kapal mewah, Partai Demokrat ini sudah seperti kapal titanic, mewah dan besar tapi akhirnya tenggelam karena sudah bocor sana bocor sini. Lebih baik cari skoci daripada masih menumpang titanic.

Tentu saja hal ini akan membuat nahkoda Partai Demokrat semakin bingung mencari langkah pemecahan. Bahkan bisa jadi setiap langkah akan justru membuat partai demokrat semakin masuk jurang.

Benarkah demokrat di pemilu 2014 akan terseok dengan perolehan di bawah 10 persen? bahkan mungkin mendekati 5-6 % saja sudah bagus. Karena rakyat sekarang lebih pintar dan lebih pandai.
 
Top